Bima, Akurasinewsntb.com– Pemerintah Kabupaten Bima mengambil langkah tegas dengan membuka penyegelan lahan di SDN 2 Ntonggu, Kecamatan Palibelo, pada Kamis (15/01/26). Langkah ini dilakukan demi menjamin hak pendidikan siswa dan memastikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kembali berjalan normal setelah terhambat selama kurang lebih tiga bulan.
Keputusan pembukaan segel ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi (Rakor) yang digelar di Aula Rapat Wakil Bupati Bima pada pagi harinya. Usai rapat, rombongan Pemkab Bima langsung bergerak menuju lokasi sekolah.
Aksi ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy, Dandim 1608/Bima Letkol Arh. Samuel Asdianto Limbongan, Kapolres Bima AKBP Muhammad Anton Bhayangkara Gaisar, S.I.K., M.H, dan Sekretaris Daerah Adel Linggi Ardi, SE.
Turut hadir pula para Asisten Setda, Kepala BPN Kabupaten Bima, unsur Dinas Pendidikan, serta aparat pemerintah kecamatan dan desa setempat.
Wakil Bupati Bima, dr. H. Irfan Zubaidy, menegaskan bahwa tindakan penyegelan sepihak oleh oknum masyarakat tidak dapat dibenarkan secara hukum. Ia menjelaskan bahwa lahan tersebut adalah aset pemerintah daerah yang diperuntukkan bagi kepentingan publik.
“Sekolah adalah fasilitas umum yang harus kita jaga bersama. Apapun permasalahannya, penyelesaian harus melalui jalur hukum dan musyawarah, bukan dengan menghambat aktivitas pendidikan,” tegas Wabup.
Selama tiga bulan masa penyegelan, para siswa SDN 2 Ntonggu terpaksa belajar dalam kondisi terbatas. Sebagian aktivitas KBM bahkan harus dipindahkan ke lokasi alternatif demi mengejar ketertinggalan materi.
Pemkab Bima mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri yang merugikan kepentingan umum. Pemerintah menyatakan tetap terbuka untuk memfasilitasi dialog dan mencari solusi yang adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan dibukanya segel ini, diharapkan suasana belajar di SDN 2 Ntonggu kembali kondusif demi masa depan generasi penerus di Kabupaten Bima. (sya)

.jpeg)















Komentar