RSUD Sondosia Kabupaten Bima: Dari Rumah Sakit yang “Tak Berwajah” Menjadi Rumah Sakit Harapan Masyarakat

Penulis: M. Fatoni politisi Partai Demokrat Kabupaten Bima

Kesehatan74 Dilihat

Ada masa ketika Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sondosia dipandang dengan penuh skeptisisme dan nada sinis, bahkan sebagian masyarakat sempat mendiskreditkannya. Manajemen yang dinilai kurang optimal, fasilitas yang jauh dari kata layak, keterbatasan dokter spesialis, serta pelayanan yang belum mampu memenuhi ekspektasi publik, menjadi percakapan hangat dalam denyut kehidupan sosial masyarakat. Inilah suara akar rumput yang dahulu bergulir dari mulut ke mulut, mengendap menjadi persepsi, dan perlahan menjelma sebagai pandangan kolektif tentang wajah RSUD Sondosia kala itu.

Namun, persepsi tidak selalu menjadi takdir. Ketika seorang pemimpin datang membawa keberanian untuk mereset sistem, membangun kembali fondasi manajemen, memuliakan manusia, dan bekerja dengan visi yang jelas, sebuah institusi yang pernah dipandang sebelah mata dapat menemukan wajah barunya. Perubahan tersebut dimulai dari keberanian untuk menegaskan satu hal: kita harus berubah.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama, Dr. Firman MPH, stigma negatif RSUD Sondosia perlahan runtuh. Rumah sakit ini seolah sedang bersolek—bukan sekadar mempercantik bangunan dan fasilitas fisik, melainkan membenahi hal yang jauh lebih fundamental: sistem, budaya kerja, profesionalisme, serta cara manusia memperlakukan manusia lainnya.

Dr. Firman hadir membawa gaya kepemimpinan yang visioner, tegas, dan energik, namun tetap persuasif dan humanis. Ia tidak sekadar duduk di belakang meja menunggu laporan, melainkan membawa ritme kerja yang cepat: membangun sistem, merapikan manajemen, mengevaluasi persoalan di lapangan, sekaligus mendorong seluruh elemen rumah sakit untuk bergerak dalam satu arah yang sama—memberikan pelayanan kesehatan yang bermartabat bagi masyarakat.

Salah satu langkah paling fenomenal adalah keberanian dalam menata kembali sistem insentif dan pemenuhan hak-hak yang manusiawi bagi para tenaga medis, tenaga kesehatan, hingga seluruh staf penunjang. Pemimpin yang memahami dinamika organisasi tentu mengerti bahwa pelayanan terbaik kepada pasien harus dibangun dari penghargaan yang layak kepada orang-orang yang melayani. Memanusiakan tenaga kesehatan bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan fondasi utama dari lahirnya pelayanan yang beradab.

Dari sanalah transformasi mulai terasa. RSUD Sondosia yang dahulu seolah “tak berwajah”, perlahan menemukan kembali identitasnya. Wajah baru ini tidak hanya tercermin dari fisik bangunan yang diperbaiki atau fasilitas yang ditingkatkan, tetapi juga dari hadirnya lebih banyak dokter spesialis, pembenahan sistem pelayanan, peningkatan profesionalisme, serta tumbuhnya budaya kerja yang menempatkan pasien sebagai manusia yang harus dihormati, bukan sekadar nomor antrean.

Tengoklah setiap ruang pelayanan dan perawatan yang ada hari ini. Keramahan para petugas kesehatan kini bukan lagi sekadar slogan yang terpampang di dinding. Senyum, sapa, komunikasi yang santun, dan kesediaan untuk membantu telah menjelma menjadi budaya yang hidup. Ia hadir dalam setiap interaksi, dalam penjelasan yang diberikan kepada keluarga pasien, serta dalam cara para tenaga kesehatan menjalankan pengabdiannya.

Tentu saja, sebuah perubahan besar tidak selalu berjalan sempurna tanpa hambatan. Dalam proses transisi menuju budaya kerja baru, merupakan hal yang manusiawi jika masih ada satu atau dua pihak yang belum sepenuhnya terbiasa dengan ritme kerja yang cepat, disiplin, dan berorientasi pada perubahan. Kepemimpinan yang baik bukanlah tentang menuntut kesempurnaan sejak hari pertama, melainkan kepemimpinan yang tahu ke mana arah organisasi dibawa, berani memulai, konsisten menjaga arah, dan mampu merangkul semua orang untuk tumbuh bersama.

Gaya kepemimpinan transformasi pelayanan publik inilah yang kini berhembus di RSUD Sondosia: tidak sibuk dengan pencitraan tetapi fokus membangun sistem; tidak larut dalam seremoni tetapi berorientasi pada proses dan hasil; berani memangkas kebiasaan lama yang tidak produktif; serta tegas terhadap sistem namun tetap humanis kepada manusia. Sebab, rumah sakit bukan hanya tentang gedung, alat kesehatan, atau obat-obatan, melainkan tentang manusia yang datang membutuhkan pertolongan dan berharap diperlakukan dengan penuh rasa hormat.

Ketika RSUD Sondosia mampu menghadirkan pelayanan yang lebih ramah, dokter spesialis yang kian lengkap, fasilitas yang terus dibenahi, serta manajemen yang tertata, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya institusi kesehatan, melainkan kepercayaan masyarakat. Dari rumah sakit yang dahulu diragukan, kini tumbuh harapan baru tempat masyarakat menyandarkan keselamatan dan kesehatannya.

RSUD Sondosia kini sedang bersolek menuju wajah baru yang lebih profesional, beradab, dan humanis. Semoga ikhtiar perubahan ini terus dijaga, diperkuat, dan diwariskan menjadi budaya organisasi yang berkelanjutan.

Selamat Dirgahayu ke-15 RSUD Sondosia! Teruslah tumbuh, teruslah berbenah, dan teruslah melayani dengan hati.

Ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Direktur Utama Dr. Firman MPH beserta jajaran manajemen, para dokter spesialis dan dokter umum, perawat, bidan, tim farmasi, radiologi, laboratorium, tenaga kesehatan lainnya, hingga seluruh staf administrasi dan teknis penunjang RSUD Sondosia atas dedikasi tanpa henti bagi masyarakat Kabupaten Bima.