Mataram, Akurasinewsntb.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkokoh sistem layanan kesehatan jantung di wilayahnya. Langkah ini ditandai dengan kegiatan advokasi dan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pengampuan layanan jantung regional yang dilaksanakan secara daring dari Pendopo Wakil Gubernur NTB, Kamis (22/1/2026).
Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, menegaskan bahwa penguatan ini merupakan langkah strategis untuk menjamin akses layanan jantung yang cepat, aman, dan merata bagi seluruh masyarakat NTB.
“Pengampuan ini sangat krusial untuk menghadapi kasus kegawatdaruratan yang membutuhkan respons cepat, dukungan teknologi, serta SDM yang andal,” ujar Wagub yang akrab disapa Umi Dinda tersebut.
Dalam skema ini, RSUD Provinsi NTB tidak hanya bertindak sebagai rumah sakit rujukan utama, tetapi juga sebagai center of excellence regional. Rumah sakit ini bertanggung jawab dalam pembinaan dan transfer kompetensi kepada tenaga medis di daerah, pendampingan klinis dan penguatan sistem rujukan. Serta peningkatan mutu dan keselamatan layanan jantung di rumah sakit jejaring.
Penetapan RSUD Provinsi NTB sebagai pengampu regional dengan Strata Layanan Utama ini sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Kesehatan RI terkait jejaring pelayanan penyakit katastropik (kanker, jantung, dan pembuluh darah).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri, menjelaskan bahwa penyakit kardiovaskular tetap menjadi tantangan besar. Selain menjadi penyebab kematian yang tinggi, penyakit ini menyerap hampir 50 persen dari total pembiayaan penyakit katastropik dalam program JKN.
“Saat ini, RSUD Provinsi mengampu sembilan kabupaten/kota yang rata-rata berada pada strata madya. Dengan kondisi geografis kita yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa, penguatan sistem rujukan di wilayah terpencil menjadi harga mati,” jelas Hamzi.
Salah satu capaian membanggakan yang diungkapkan Hamzi adalah keberlanjutan layanan bedah jantung di RSUD Provinsi NTB. Berkat penguatan sarana dan SDM, kasus-kasus bedah berat kini bisa ditangani di dalam daerah.
“Layanan bedah jantung kami sudah berjalan kontinu. Dampaknya nyata, pasien kini tidak perlu lagi banyak dirujuk ke luar daerah seperti ke Bali,” tambahnya.
Melalui komitmen ini, Pemprov NTB berharap terbangun ekosistem layanan jantung yang terintegrasi dan profesional. Dukungan kebijakan serta anggaran dari pemerintah kabupaten/kota sangat diharapkan agar standarisasi layanan jantung dapat merata di seluruh pelosok Bumi Gora. (red)
